As the weekend wore on, I got literally nothing to do at home. Nganggur, gabut, kangen tugas (bullshit ik), you name it. There are times when I really want to be productive, do something positive and time-worthy but I just don't do so much efforts that are able to diminish my laziness--because I'm just that good at procrastinating. I often end up watching movies a lot. And eating a lot, too.
Akhir-akhir ini gue lagi suka nonton film yang punya twist ending, you know, those shocking, brain-teasing, and mind-blowing ones. Some of them are Predestination, The Boy in the Striped Pyjamas, Gone Girl, and Memento. Kalo belum nonton mending gausah baca postingan gue yang ini dulu soalnya gue mau spoiler. So before you read this, I totally recommend you to watch those movies aforementioned. CUKUP BACA SINOPSISNYA AJA, OKE?
dan perkataan John sendiri,
YASH, this movie really got my mind all fucked up. KEREN BANGET!
Banyak banget yang ngerekomendasiin film ini. By a lot, I mean A LOT. Good reviews, rating IMDB bagus, one of David Fincher's masterpieces... I think there was no reason not to be curious and put it into my list.
Gone Girl bercerita tentang pasangan suami-istri, yaitu Nick Dunne (Ben Affleck) dan Amy Dunne (Rosamund Pike). Konflik langsung terjadi di awal film saat Nick pulang ke rumah dan mendapati istrinya hilang. Nick kemudian melaporkan ke polisi hingga investigasi dilakukan. Anehnya dari hasil investigasi polisi yang dipimpin Detektif Rhonda (Kim Dickens) justru menyudutkan Nick yang kemudian malah diduga telah membunuh istrinya. Masalah makin bertambah seiring reputasi istrinya yang menginspirasi karakter Amazing Amy, tokoh dalam seri buku anak-anak, yang membuatnya dikenal oleh publik. Tak heran jika masalah ini pun makin meluas berkat campur tangan media massa hingga menjadi konsumsi nasional. (http://namafilm.blogspot.com)
SPOILER ALERT!
Dan emang, film ini parah! Gila. Aura thriller-nya berasa banget meskipun nggak ditampilin secara eksplisit, terbukti di beberapa scene yang bikin gue tegang. Secara garis besar, film ini emang nyeritain tentang marriage. Plot-nya cukup complicated, soalnya diselipin tiap scene flashback yang mendetail; hubungan mereka berdua dari awal dan Amy yang lagi narasiin diary-nya. Di awal gue bener-bener mikir si Amy tuh ke mana. Dibunuhkah? Diculik? Apa yang gue saksikan dari awal, sampe ke bagian di mana Nick selingkuh dan memperlakukan Amy kayak gitu sebelum dia hilang bikin gue memihak Amy dan benci banget sama Nick. Kemudian plot twist yang ada bikin impression gue terhadap setiap tokoh berubah-ubah. Gue berhasil ditipu sama persona yang dibuat Amy. She was a psycho, what she has been doing was totally insane. Gue speechless liat apa yang dia lakuin ke Desi (kasian banget itu cowok ya ampun udah dimanfaatin abis-abisan, dibunuh dengan cara yang nggak wajar, difitnah pula :(). Ternyata dia kabur jauh-jauh untuk membuat kesan kalo dia dibunuh sama Nick (tapi nggak sepenuhnya salah dia juga sik, karena dia nggak mungkin mau bales dendam kalo Nick nggak selingkuh). Setelah dia merangkai skenario, came out, menjelaskan situasi yang direkayasa sendiri dengan evidence yang sempurna, dan berhasil bikin publik iba, Amy akhirnya terbukti tidak bersalah. The fact that she has successfully done it till the end really disturbed me. And it's so frustrating to think that akhirnya mereka serumah lagi, walaupun Nick udah tau kalo istrinya saiko (because after all this time, he surprisingly hasn't knew his own wife yet). Kebayang nggak lo kehidupan rumah tangga mereka ke depannya bakal gimana?
Pokoknya banyak banget twist nggak terduga yang bakal bikin kepala lo muter-muter. It was amazing yet... depressing!
Leonard Shelby yang diperankan oleh Guy Pearce memiliki cerita yang kompleks mengenai kehidupannya pasca-ingatan jangka pendeknya yang hilang ketika berkelahi dengan penyerang istrinya saat tengah malam. Hal terakhir yang tersimpan dalam memori jangka panjangnya adalah istrinya yang sedang sekarat di hadapannya. Semenjak itu, Leonard mengabdikan hidupnya untuk berusaha mencari penyerang istrinya. Ingatan jangka pendeknya yang rusak membuat Leonard menggunakan foto, catatan, dan tato di tubuhnya untuk mengingat petunjuk-petunjuk yang sudah dia dapatkan untuk mengungkap teka-teki pembunuh istrinya. Secara bergantian film ini memiliki latar hitam putih dan latar berwarna. Latar hitam putih menceritakan urutan kronologis pencarian Leonard dengan alur maju, sedangkan latar berwarna menandakan pencarian Leonard dengan alur mundur. Latar hitam putih dan berwarna ini akan saling bergantian muncul hingga bertemu di pertengahan kronologis dimana hal itu ada di akhir film.
PREDESTINATION
Predestination merupakan rekomendasi dari salah seorang temen gue. Dia menggebu-gebu banget pas lagi ceritain sinopsisnya, she told me that this movie would never be disappointing. Langsung deh gue download nih film.
Dengan latar belakang tahun 1992, John (Ethan Hawke) adalah seorang agen pemerintah yang bertugas untuk mencegah terjadinya kejahatan termasuk pembunuhan yang akan berdampak di masa depan dengan cara melintasi waktu. Misinya adalah memburu seorang pengebom yang dikenal dengan nama Fizzle Bomber. Ia pun kembali ke tahun 1970 dan menyamar menjadi bartender untuk mencari informasi seputar Fizzle Bomber. Di bar itu juga ia bertemu dengan seorang pria yang mirip wanita.
SPOILER ALERT!
Dengan latar belakang tahun 1992, John (Ethan Hawke) adalah seorang agen pemerintah yang bertugas untuk mencegah terjadinya kejahatan termasuk pembunuhan yang akan berdampak di masa depan dengan cara melintasi waktu. Misinya adalah memburu seorang pengebom yang dikenal dengan nama Fizzle Bomber. Ia pun kembali ke tahun 1970 dan menyamar menjadi bartender untuk mencari informasi seputar Fizzle Bomber. Di bar itu juga ia bertemu dengan seorang pria yang mirip wanita.
Gue suka banget sama film yang berbau time-travel, apalagi yang menghidangkan banyak twist tak terduga yang bikin gue cengo macam Predestination ini. Sang sutradara ngasih alur yang sulit ditebak dan plot yang rumit sehingga kadang pertanyaan-pertanyaan inevitably muncul di benak para penonton. Jadi kunci utama nonton Predestination adalah minum Aqua dulu, biar fokus. Gue nonton beginningnya sambil makan jadi sepanjang film gue harus bener-bener fokus untuk bisa memahami ke mana sih sebenernya gue di bawa sama film ini? 10 menit pertama gue belum melek seutuhnya, tapi seiring dengan berjalannya film, beberapa scene berhasil bikin gue shocked, sampe endingnya yang sama sekali unpredictable. Ternyata... selama 97 menit gue hanya menonton satu orang yang sama! I was jaw-dropped like what the fuck? Jadi intinya film ini cuma bercerita tentang satu orang di timeline yang berbeda-beda. Pas gue selidikin ternyata clue-nya emang ada di quotes yang dilihat John waktu dia sadar,
"Never do yesterday what should be done tomorrow."
"If at last you do succeed, never try again."
dan perkataan John sendiri,
"The snake that eats its own tail, forever and ever."
YASH, this movie really got my mind all fucked up. KEREN BANGET!
THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS

The Boy in the Striped Pyjamas adalah another Nazi-themed movie yang membekas di hati gue selain Life is Beautiful. Dua-duanya heart-breaking, cocok buat lo yang pengen nonton film sedih tapi nggak menye-menye.
Film ini menceritakan tentang Bruno (Asa Butterfield), seorang anak Jerman berusia delapan tahun. Ia merupakan anak dari Ralf (David Thewlis) dan istrinya Elsa (Vera Farmiga). Ralf sendiri merupakan seorang tentara Jerman yang kemudian dipromosikan menjadi komandan sebuah kamp konsentrasi Nazi, Auschwitz. Keluarga kecil itu pun pindah, dari Berlin ke Auschwitz. Rumah baru mereka pun berada tak jauh dari kamp konsentrasi tersebut. Tinggal di area kamp konsentrasi, Bruno tidak diperbolehkan untuk menjelajahi bagian belakang rumah atau sekitarnya. Ibunya pun melarang dia untuk melakukannya. Namun, kombinasi dari rasa bosan dan ingin tahu, membuat ia memutuskan untuk pergi mengeksplorasi. Dia melihat anak laki-laki di sisi lain pagar. Ia merasa gembira, karena ternyata ada anak laki-laki seusianya. Shmuel namanya, ia seorang anak keturunan Yahudi Polandia, yang dibawa paksa ke kamp konsentrasi beserta keluarganya. Sejak saat itu, mereka pun menjadi sahabat. (http://deatriandani.blogspot.com/2013/01/sinopsis-boy-in-striped-pajamas.html)
SPOILER ALERT!
Adegan di mana Bruno sama Shmuel main bareng walaupun mereka dibatasi, conversation yang bener-bener jujur, plain apa adanya antara dua bocah innocent ini bener-bener powerful enough buat bikin mata gue berkaca-kaca. Tiap liat Shmuel rasanya kasian banget, bocah sekecil itu udah harus ngejalanin hidup di dalam kamp konsentrasi yang sedemikian berat.
Film ini menceritakan tentang Bruno (Asa Butterfield), seorang anak Jerman berusia delapan tahun. Ia merupakan anak dari Ralf (David Thewlis) dan istrinya Elsa (Vera Farmiga). Ralf sendiri merupakan seorang tentara Jerman yang kemudian dipromosikan menjadi komandan sebuah kamp konsentrasi Nazi, Auschwitz. Keluarga kecil itu pun pindah, dari Berlin ke Auschwitz. Rumah baru mereka pun berada tak jauh dari kamp konsentrasi tersebut. Tinggal di area kamp konsentrasi, Bruno tidak diperbolehkan untuk menjelajahi bagian belakang rumah atau sekitarnya. Ibunya pun melarang dia untuk melakukannya. Namun, kombinasi dari rasa bosan dan ingin tahu, membuat ia memutuskan untuk pergi mengeksplorasi. Dia melihat anak laki-laki di sisi lain pagar. Ia merasa gembira, karena ternyata ada anak laki-laki seusianya. Shmuel namanya, ia seorang anak keturunan Yahudi Polandia, yang dibawa paksa ke kamp konsentrasi beserta keluarganya. Sejak saat itu, mereka pun menjadi sahabat. (http://deatriandani.blogspot.com/2013/01/sinopsis-boy-in-striped-pajamas.html)
SPOILER ALERT!
Adegan di mana Bruno sama Shmuel main bareng walaupun mereka dibatasi, conversation yang bener-bener jujur, plain apa adanya antara dua bocah innocent ini bener-bener powerful enough buat bikin mata gue berkaca-kaca. Tiap liat Shmuel rasanya kasian banget, bocah sekecil itu udah harus ngejalanin hidup di dalam kamp konsentrasi yang sedemikian berat.
Feeling gue udah gaenak pas Bruno akhirnya ngegali tanah perbatasan, masuk ke 'area dalam pagar', ngeganti bajunya sama piyama punya Shmuel, trus ngejalanin misi mereka buat nyari bapaknya si Shmuel ini. Tiba-tiba mereka didesak buat baris trus diarahin ke sebuah ruangan, combustion place for them Jews, to be precise. When the Nazis commanded them to take off their clothes, I could feel my heart tore apart seeing Bruno and Shmuel keep on holding hands among the crowd, convinced each other that it's just going to be a shower. Kemudian pintu pun ditutup...
Gue udah punya prediksi mereka bakal kenapa tapi gue tetep menyangkal like please jangan dong jangan why this has to be ended in such a cruel way. :"( Berbarengan dengan digiringnya mereka ke ruang pembakaran, orang tua dan kakaknya Bruno lari ke kamp itu secepet yang mereka bisa, but it was too late. Pas ruangan menggelap trus pintunya disorot, I just couldn't help myself wondering what--how it happened behind that door; what happened with Bruno and Shmuel.
SPOILER ALERT!
Dan emang, film ini parah! Gila. Aura thriller-nya berasa banget meskipun nggak ditampilin secara eksplisit, terbukti di beberapa scene yang bikin gue tegang. Secara garis besar, film ini emang nyeritain tentang marriage. Plot-nya cukup complicated, soalnya diselipin tiap scene flashback yang mendetail; hubungan mereka berdua dari awal dan Amy yang lagi narasiin diary-nya. Di awal gue bener-bener mikir si Amy tuh ke mana. Dibunuhkah? Diculik? Apa yang gue saksikan dari awal, sampe ke bagian di mana Nick selingkuh dan memperlakukan Amy kayak gitu sebelum dia hilang bikin gue memihak Amy dan benci banget sama Nick. Kemudian plot twist yang ada bikin impression gue terhadap setiap tokoh berubah-ubah. Gue berhasil ditipu sama persona yang dibuat Amy. She was a psycho, what she has been doing was totally insane. Gue speechless liat apa yang dia lakuin ke Desi (kasian banget itu cowok ya ampun udah dimanfaatin abis-abisan, dibunuh dengan cara yang nggak wajar, difitnah pula :(). Ternyata dia kabur jauh-jauh untuk membuat kesan kalo dia dibunuh sama Nick (tapi nggak sepenuhnya salah dia juga sik, karena dia nggak mungkin mau bales dendam kalo Nick nggak selingkuh). Setelah dia merangkai skenario, came out, menjelaskan situasi yang direkayasa sendiri dengan evidence yang sempurna, dan berhasil bikin publik iba, Amy akhirnya terbukti tidak bersalah. The fact that she has successfully done it till the end really disturbed me. And it's so frustrating to think that akhirnya mereka serumah lagi, walaupun Nick udah tau kalo istrinya saiko (because after all this time, he surprisingly hasn't knew his own wife yet). Kebayang nggak lo kehidupan rumah tangga mereka ke depannya bakal gimana?
Pokoknya banyak banget twist nggak terduga yang bakal bikin kepala lo muter-muter. It was amazing yet... depressing!
MEMENTO
Who doesn't love Nolan's work? Selain Inception, film bergenre neo-noir psychological thriller ini bakal bikin lo takjub.
SPOILER ALERT!
Pertama, gue pengen bilang kalo gue suka banget sama alurnya yang backwards. Biasanya kalo kita nonton film kan nanyanya "What will happen next?", tapi di Memento mah "What happened before?" karena akhirnya ada di awal, dan awalnya ada di akhir. Brilliant, isn't it?
Gue bener-bener penasaran sama endingnya dan siapa sebenernya John G. yang selama ini dia cari. Dan ternyata... John G. yang merupakan pemerkosa dan pembunuh istrinya udah dia bunuh beberapa tahun yang lalu. Karena Leonard menderita short-term memory loss (unable to create new memories after the event, which is why this story happened), dia nggak inget kalo dia udah membunuhnya dan terus mencari John G. dengan tato-tato di tubuhnya sebagai petunjuk. Kondisi Leonard ini pun disalahgunakan oleh Teddy dan Natalie. Teddy mempergunakan Leonard buat ngebunuh James Grants (yang dia kira John G. then he realized that he killed the wrong person). Natalie, yang merupakan pacar James, membantu Leonard mengumpulkan fakta-fakta yang membuat Teddy menjadi the real John G., dan dendam Natalie pun terbalaskan begitu Leonard berhasil membunuh Teddy (opening film). That Sammy Jankins guy, penderita anterograde yang selama ini dia jadikan 'patokan' tidaklah nyata. Sammy Jankins adalah dirinya sendiri.
So, Leonard cuma dimanfaatin buat ngebunuh orang-orang tertentu yang nggak ada untungnya buat dia, karena John G. yang selama ini dia cari udah mati. Sumpah kalo jadi Leonard, gue udah nggak tau mau ngapain. Bayangin aja, lo nggak inget apapun yang baru lo lakukan beberapa menit lalu. Belum lagi lo nggak bisa percaya orang begitu aja, because who knows what will people do to take advantage of your condition?
Intinya film ini berhasil dikemas dengan apik dan cerdas bangetlah!
