Lalu aku berteriak
Menuntut langit menurunkan air matanya
Untuk menyamarkan air mataku
Aku kembali berteriak
Melawan deru arus laut
Untuk melumatkan sesak di rongga dada
Udara dingin menusuk-nusuk,
menyelundup ke tenggorokan,
membekukan paru-paru,
dan mengayom setiap hembusan nafasku,
yang lelah akan hidup penuh liku.
Aku segera memasung waktu
Membuatnya diam dan tidak berdenting sejenak
Aku mengikat kenyataan
Membiarkannya meronta-ronta kesakitan
Aku kembali berteriak
Berharap Tuhan bisa mendengar
Tuhan,
aku hanya ingin bebas
dari realita hidup yang begitu kejam
Sebentar saja
Kamar Tercinta, 5 April 2012
No comments:
Post a Comment