MORNING LIGHT
Karya: Windhy Puspitadewi
Sinopsis: Aku
seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada
dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman
pikirannya, caranya memandang hidup—malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.
Aku begitu terpesona hingga
tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga
untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan suara
lirih dari dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya
tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti
dia, aku pun akan dicintai?
Review:
Gue adalah salah satu
penggemar dari karya-karyanya Kak Windhy. Novelnya yang pertama kali gue baca
itu sHe, dan semenjak saat itu gue jadi tertarik buat beli dan baca novelnya
yang lain. See, there are six books with
her name on the cover inside my bookshelf. Itu baru yang ketangkep sama
mata gue begitu mengunjungi toko buku.
Sampai sekarang, masih belum ada
yang menggeser Let Go dan Morning Light dari kedudukan mereka sebagai novel
favorit gue. Gue udah baca mereka berkali-kali and no doubt, gue suka banget sama keduanya. Kali ini gue mau bikin
review dari MORNING LIGHT (gue pikir yang nge-review Let Go udah banyak, jadi
yang satu ini dulu deh).
Seperti novel lain Kak Windhy yang mayoritas menjadikan 4 tokoh sebagai sorotan utama cerita, novel ini
mengisahkan tentang 4 orang sahabat. Ada Sophie, Devon, Agnes, dan Julian.
Mereka ini bersahabat sejak
SMP—kecuali Sophie dan Devon, mereka sudah bersahabat sejak kecil karena mereka
bertetangga. Sophie; cewek dingin—mengingatkan gue pada Dhinar (sHe), penulis
novel, dan sering adu mulut sama Devon. Dia ini berjuang keras untuk mengikuti
jejak sang ibu yang merupakan seorang penulis terkenal. Dia nggak mau mempermalukan
nama ibunya, jadi dia terus menulis. Sampai akhirnya she lost her soul, karena semata-mata dia menulis bukan untuk
dirinya sendiri, melainkan untuk ibunya. Sophie tidak sadar bahwa sebenarnya dia-lah
yang menuntut diri untuk menjadi seorang penulis. Padahal dia sangat ingin
menjadi fotografer karena dia mencintai fotografi, tempat di mana jiwanya
berada.
Devon; cowok charming yang jago
main bola, baik, dan digemari kaum hawa. Well,
mirip-mirip Caraka (Let Go). Dia digembleng untuk menjadi seperti ayahnya yang
merupakan mantan pemain sepak bola terkenal. Bedanya dengan Sophie yang
menuntut diri, Devon memang berada di bawah tuntutan ayahnya. Sang ayah terlalu
keras dalam menekannya, sehingga membuatnya muak, bermain di bawah paksaan, dan
tak lagi menikmati sepak bola.
Agnes; dia ini cewek banget.
Lembut, jago masak, mudah tersentuh, fragile.
Dia dibesarkan dalam keluarga dokter namun tidak dapat mengikuti jejak kedua
orang tuanya maupun almarhum kakaknya. She
loves cooking, dan terkadang dia merasa tidak berarti karena hanya bisa
memasak, terlebih lagi ketika terbayang-bayang oleh sang kakak yang jauh lebih
sukses darinya. Dia menginginkan orang tuanya memandangnya sebagai seorang
Agnes, dan berhenti membandingkan dirinya dengan sang kakak.
Julian; a man version of Sophie. Dingin, jenius, cuek tapi sebenarnya
peduli. Julian ini sejenis sama Nathan, dan gue suka banget tipe cowok kayak
mereka (keren gitulah). Jadi dia ini punya kakak yang kuliah di MIT. Dia ingin
berkiprah di bidang yang sama, dan menyamai atau kalau bisa mengungguli
kakaknya. Julian ini nggak cuma berbakat di Matematika, tapi juga di Sejarah.
Hingga akhirnya dia terjebak dalam ruang di mana dia harus menentukan pilihan untuk
melanjutkan sesuatu yang sudah dirancangnya dari awal, atau mempertahankan
mimpinya.
Keempat tokoh ini memiliki problematika
yang seragam. Same in case. Seperti
yang digambarkan pada sinopsisnya; tentang pencarian dan penemuan jati diri. Hidup
dalam bayang-bayang orang lain, dalam kepura-puraan, dan melupakan potensi yang
ada dalam diri.
Cerita ini didominasi oleh persahabatan,
lalu dibumbui romansa antar tokoh—Sophie sama Devon dan Agnes sama Julian. Jadi
cinta-cintaannya nggak menyeluruh, ada makna lain kayak persahabatan dan nilai
kehidupan yang bisa dipetik. Kak Windhy ngasih something yang bisa dipelajari dan direnungi baik-baik ke readers-nya, tapi tanpa kesan menggurui.
Karakterisasinya kuat, ada scenes di mana masing-masing tokoh bertarung
sama perasaannya sendiri, sehingga kita bisa tahu perspektif mereka akan
kehidupan, cara mereka berpikir dan menghadapi masalah tuh kayak gimana. Dialognya
cerdas, dan ada kalimat-kalimat keren yang bisa di-quote. Terus ditambah sama humor sarkastis yang menohok (Kak Windhy
jagonya), yang mampu memperdalam kesan pada pembaca. Tapi bahasanya terlalu
baku untuk remaja kayak Sophie dkk, jadi kelihatannya agak maksa dan nggak fleksibel.
But at least, kekurangannya nggak banyak menurut gue. I
enjoyed the story. Alurnya juga berjalan lancar dan nggak bertele-tele.
Kisah yang sederhana, namun Kak Windhy mampu menuliskannya jadi sesuatu yang
luar biasa. Gue suka banget sama moral value-nya:
Jangan menjadi seperti orang lain untuk orang lain. Terlebih lagi sampai melupakan kemampuan sendiri dan mengubur mimpi yang ingin kita gapai. Just be yourself, because somebody else is already taken.
Good work, Kak
Win! Nggak sabar buat baca novel terbaru kakak. Bakal rilis... tahun
depankah? Woohoo, mari kita bersorak! :D
Sincerely,
Atikah
Larasati