Wednesday, 20 November 2013

Review: Morning Light



MORNING LIGHT

Karya: Windhy Puspitadewi

Sinopsis: Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup—malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.
Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan suara lirih dari dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?

Review: 

Gue adalah salah satu penggemar dari karya-karyanya Kak Windhy. Novelnya yang pertama kali gue baca itu sHe, dan semenjak saat itu gue jadi tertarik buat beli dan baca novelnya yang lain. See, there are six books with her name on the cover inside my bookshelf. Itu baru yang ketangkep sama mata gue begitu mengunjungi toko buku.

Sampai sekarang, masih belum ada yang menggeser Let Go dan Morning Light dari kedudukan mereka sebagai novel favorit gue. Gue udah baca mereka berkali-kali and no doubt, gue suka banget sama keduanya. Kali ini gue mau bikin review dari MORNING LIGHT (gue pikir yang nge-review Let Go udah banyak, jadi yang satu ini dulu deh).

Seperti novel lain Kak Windhy yang mayoritas menjadikan 4 tokoh sebagai sorotan utama cerita, novel ini mengisahkan tentang 4 orang sahabat. Ada Sophie, Devon, Agnes, dan Julian.

Mereka ini bersahabat sejak SMP—kecuali Sophie dan Devon, mereka sudah bersahabat sejak kecil karena mereka bertetangga. Sophie; cewek dingin—mengingatkan gue pada Dhinar (sHe), penulis novel, dan sering adu mulut sama Devon. Dia ini berjuang keras untuk mengikuti jejak sang ibu yang merupakan seorang penulis terkenal. Dia nggak mau mempermalukan nama ibunya, jadi dia terus menulis. Sampai akhirnya she lost her soul, karena semata-mata dia menulis bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk ibunya. Sophie tidak sadar bahwa sebenarnya dia-lah yang menuntut diri untuk menjadi seorang penulis. Padahal dia sangat ingin menjadi fotografer karena dia mencintai fotografi, tempat di mana jiwanya berada.

Devon; cowok charming yang jago main bola, baik, dan digemari kaum hawa. Well, mirip-mirip Caraka (Let Go). Dia digembleng untuk menjadi seperti ayahnya yang merupakan mantan pemain sepak bola terkenal. Bedanya dengan Sophie yang menuntut diri, Devon memang berada di bawah tuntutan ayahnya. Sang ayah terlalu keras dalam menekannya, sehingga membuatnya muak, bermain di bawah paksaan, dan tak lagi menikmati sepak bola.

Agnes; dia ini cewek banget. Lembut, jago masak, mudah tersentuh, fragile. Dia dibesarkan dalam keluarga dokter namun tidak dapat mengikuti jejak kedua orang tuanya maupun almarhum kakaknya. She loves cooking, dan terkadang dia merasa tidak berarti karena hanya bisa memasak, terlebih lagi ketika terbayang-bayang oleh sang kakak yang jauh lebih sukses darinya. Dia menginginkan orang tuanya memandangnya sebagai seorang Agnes, dan berhenti membandingkan dirinya dengan sang kakak.

Julian; a man version of Sophie. Dingin, jenius, cuek tapi sebenarnya peduli. Julian ini sejenis sama Nathan, dan gue suka banget tipe cowok kayak mereka (keren gitulah). Jadi dia ini punya kakak yang kuliah di MIT. Dia ingin berkiprah di bidang yang sama, dan menyamai atau kalau bisa mengungguli kakaknya. Julian ini nggak cuma berbakat di Matematika, tapi juga di Sejarah. Hingga akhirnya dia terjebak dalam ruang di mana dia harus menentukan pilihan untuk melanjutkan sesuatu yang sudah dirancangnya dari awal, atau mempertahankan mimpinya.

Keempat tokoh ini memiliki problematika yang seragam. Same in case. Seperti yang digambarkan pada sinopsisnya; tentang pencarian dan penemuan jati diri. Hidup dalam bayang-bayang orang lain, dalam kepura-puraan, dan melupakan potensi yang ada dalam diri.

Cerita ini didominasi oleh persahabatan, lalu dibumbui romansa antar tokoh—Sophie sama Devon dan Agnes sama Julian. Jadi cinta-cintaannya nggak menyeluruh, ada makna lain kayak persahabatan dan nilai kehidupan yang bisa dipetik. Kak Windhy ngasih something yang bisa dipelajari dan direnungi baik-baik ke readers-nya, tapi tanpa kesan menggurui.

Karakterisasinya kuat, ada scenes di mana masing-masing tokoh bertarung sama perasaannya sendiri, sehingga kita bisa tahu perspektif mereka akan kehidupan, cara mereka berpikir dan menghadapi masalah tuh kayak gimana. Dialognya cerdas, dan ada kalimat-kalimat keren yang bisa di-quote. Terus ditambah sama humor sarkastis yang menohok (Kak Windhy jagonya), yang mampu memperdalam kesan pada pembaca. Tapi bahasanya terlalu baku untuk remaja kayak Sophie dkk, jadi kelihatannya agak maksa dan nggak fleksibel.

But at least, kekurangannya nggak banyak menurut gue. I enjoyed the story. Alurnya juga berjalan lancar dan nggak bertele-tele. Kisah yang sederhana, namun Kak Windhy mampu menuliskannya jadi sesuatu yang luar biasa. Gue suka banget sama moral value-nya:

Jangan menjadi seperti orang lain untuk orang lain. Terlebih lagi sampai melupakan kemampuan sendiri dan mengubur mimpi yang ingin kita gapai. Just be yourself, because somebody else is already taken.

Good work, Kak Win! Nggak sabar buat baca novel terbaru kakak. Bakal rilis... tahun depankah? Woohoo, mari kita bersorak! :D

Sincerely,

Atikah Larasati

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...