Sunday, 6 July 2014

It's about friendship, and growing apart

People come and go.

Karena berkomitmen untuk tetap tinggal tidaklah mudah.

I bet we all have best friends, right? Sahabat TK, sahabat SD, sahabat SMP, sahabat SMA, sahabat sekomplek, sahabat senasib, sahabat sependeritaan...

Friendship is one of the hardest things to be explained. Jadi saat ini gue bukan ingin menjelaskan, gue cuma ingin menyuarakan pikiran. Gue punya sahabat. Banyak. Gue sampai nggak ingat siapa aja karena, those who brought out the best in me dan menerima diri gue apa adanya, gue anggap sebagai sahabat. Semuanya punya kepribadian yang berbeda-beda dan keunikan tersendiri. Gue selalu nyaman ketika menghabiskan waktu bersama mereka. Ketika gue merasa nyaman dengan seseorang, gue nggak akan pernah ngelupain dia. Never, really. Meskipun di saat-saat nggak pernah menghabiskan waktu bersama lagi, nama mereka telah terpatri di otak gue. Friends are the family you choose, kata Jess Scott. Dan mana ada keluarga yang bisa dilupakan?

Teman yang mengerti dan menerima lu apa adanya itu jarang. Teman yang bisa lu ajak bicara tentang hal apapun sampai lupa waktu, yang telinganya selalu siap sedia, bahkan untuk masalah lu yang sama sekali tidak penting, itu jarang. Teman yang selalu ada ketika lu butuh, dan tidak lelah untuk tetap menghibur itu jarang. Teman yang you tell everything to... everything, tanpa ada rasa ragu karena lu mempercayainya, itu jarang. Teman yang bisa lu ajak tertawa lantang dan menangis bersama, itu jarang. Teman yang telah melihat sisi terburuk dari diri lu dan memilih untuk tidak pergi, itu jarang. To have a good friend is a good fortune, and to keep him/her is a blessing. Gue nggak menganggap teman palsu alias fake friend itu ada, karena apa? Teman itu bukan hanya sekedar kata, dan tidak ada teman yang seperti itu.

But people come and go.

Seiring dengan waktu yang terus bergulir, dan hidup yang membawa masing-masing pribadi ke jalur yang berbeda, we are growing apart. Akan selalu tiba waktu di mana kita menemui orang-orang baru dan tidak lagi menghabiskan waktu bersama teman lama. Kita akan tertawa dengan teman baru, membicarakan hal-hal dan cerita dan rahasia dan segalanya, seperti yang kita bicarakan dengan teman lama. And another friendship will be growing.

Apa dengan tumbuhnya persahabatan baru, yang lama akan terlupakan? Friendship is like money, easier made than kept (Samuel Butler). Siapa yang mempertahankan sebuah persahabatan, adalah siapa yang datang dan berkomitmen untuk tetap tinggal dan tidak pergi. Siapa yang tidak mengakhiri, adalah siapa yang berusaha untuk tetap menjalin hubungan baik dan mengusir kecanggungan yang kian lama menyelimuti. Persahabatan yang bisa berakhir tidak pernah benar-benar dimulai. And if we know that the friendship is not working anymore, we don't do nothing and walk away. We fix it together, even when sometimes it takes more effort to do so.

Dan sebentar lagi gue bakalan pisah sama sahabat-sahabat gue yang mayoritas beda sekolah. Sedih banget. Keep in touch ya. :')

Here, sajaknya Rachel Ellis, teruntuk semua sahabat dan teman baik gue. (do they have any difference? No?)

When we first talked to each other
I knew we would always be friends.
Our friendship has kept on growing
And I'll be here for you to the end.

You listen when I have a problem
And help dry the tears from my face.
You take away my sorrow
And put happiness in its place.

We can't forget the fun we've had
Laughing 'til our faces turn blue.
Talking of things only we find funny
People think we're insane-If they only knew!

I guess this is my way of saying thanks
For catching me when I fall.
Thanks once again for being such a good friend
And being here with me through it all.

:)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...