Wednesday, 5 February 2014

Brain VS Heart

There is a constant war between my heart and my brain right now.

Gue tau, there'd always be a fight between the heart and the brain. Sering sekali hati gue berkata begini, tapi otak gue berkata begitu. Hati gue menginginkan gue untuk melakukan ini, tapi otak gue mengelak dan menghendaki gue untuk melakukan itu. Penyebab perang di antara mereka, salah satunya, adalah soal cinta.

"The brain does the thinking, but the heart knows more about love than the mind can ever comprehend." 

Memang, hati itu mencetuskan apa yang benar-benar ingin kita lakukan. Garis bawahi, benar-benar ingin, bukan harus. Tapi the brain reminds us about the risk. Apa yang akan terjadi kalau kita melakukan apa yang ingin kita lakukan, apa yang akan terjadi kalau kita mengatakan apa yang ingin kita katakan. So it tells us to do what we should do. Karena mungkin saja jika kita mengikuti kata hati kita, hal-hal yang tidak diinginkan berpeluang besar untuk terjadi. Misalnya saat kita menyukai seseorang, dan too tired to hide the feelings we keep inside. Kita pengen mengatakan yang sejujurnya kepada orang itu, tapi kita tahu, tidak ada yang bisa menjamin bahwa semuanya akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Kita tidak tahu apakah orang itu punya rasa yang sama atau tidak, tidak tahu bagaimana responnya terhadap pernyataan kita, tidak tahu bagaimana jadinya nanti bila kita sudah menyatakan perasaan itu. Otak kita terus berspekulasi, memperkirakan hal-hal yang mungkin akan terjadi. Dan terkadang juga mengimbuhinya dengan keyakinan yang pesimistis, dengan keyakinan bahwa orang itu nggak mungkin mempunyai rasa yang sama.

Tapi hati berkata lain. The hope grows up. Meskipun hanya sepercik harapan, setidaknya harapan itu ada, kata hati. The heart speaks what we really want. Dan hati memerintahkan kita untuk percaya. Nggak ada yang benar-benar tahu apa isi hati seseorang, selain dirinya sendiri dan Tuhan. Kita nggak tahu apakah perasaan kita terbalas atau tidak jika kita tidak mencoba. The heart reminds us to keep trying, no matter what happens later. Hati mempertahankan apa yang patut dipertahankan... yaitu, harapan.



People keep on saying that you should follow your heart.

But what if it makes a wrong turn?

Tentu saja, cinta itu butuh logika. Harus dituntun supaya tidak salah jalan, atau tersandung sehingga akhirnya terluka. Ada yang berkata cinta itu buta. Sering disakiti, tapi masih tetap bertahan. Ketika logikanya sudah dikalahkan oleh perasaan.

Sebenarnya cinta itu tidak buta. Yang merajutnyalah yang membuatnya tidak terarah, kehilangan kontrol sehingga tidak dapat merasakan sakit lagi apabila hatinya dihujam terus menerus. Untuk itulah we have to keep our brain with our heart. Otak kita menuntun hati kita untuk melakukan hal yang rasional. Supaya kita bisa mengendalikan diri, tidak terbuai oleh keinginan yang diucapkan hati. Supaya kita tahu sakitnya saat terjatuh, supaya kita ingat untuk tidak lagi menjerumuskan diri di lubang yang sama. Karena hati tidak berpikir, ia hanya bisa merasakan.

Follow your heart but don't forget to take your brain with you. Don't over use your heart in loving someone... You need to use your brain to stop the pain.

My brain says no, but my heart says yes. My brain says that I have moved on, but my heart says that I'm still holding on. My brain tells me to give up, but my heart won't let me. I often follow my heart and leave my brain behind. Tapi untuk kali ini, gue telah memilih untuk tidak lagi bertarung dengan perasaan dan mengalah. I decide to take my brain with me, and make them work together. Gue mengambil jalan damai atas perang yang terjadi di antara mereka.

Because we have to take a decision appropiately.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...