Di
saat-saat yang gue punya, entah aktivitas apa yang sedang gue lakukan, gue
selalu bermain dengan pikiran gue. Memang, nggak gampang untuk menjadikan dunia
yang ada di depan mata dengan dunia di dalam kepala balance (makanya kadang
kalo diajak ngobrol gue suka tulalit). Nah, seperti sekarang. Gue ngetik ini di
saat gue lagi struggling buat menghadapi Uprak. Parah banget ya gue ngeduain...
hehehe nggak deng gue mah setia. Susah banget untuk nggak menuangkan
pemikiran gue ke dalam tulisan, apalagi pas lagi kritis-kritisnya. Isi di dalam
kepala gue menuntut untuk dituangkan, hanya saja kadang waktu sama keadaan
nggak bisa diajak kompromi.
Gue bersyukur ada hal-hal kecil yang biasanya nggak
guna tapi somehow useful buat gue, ngasih impact yang lumayan besar. Apa, Tik, contohnya? Hmm, lo inget nggak
sebundel kertas promosi [?] yang dikasih sama bimbel-bimbel? Yang biasa
dibagiin cuma-cuma pas bagi rapot? Nah, biasanya kan suka ada foto + keterangan
siswa-siswa yang bimbel di situ dan berhasil mencetak prestasi tuh. Gue sering
deh liatin info siswa itu berulang kali haha I don’t even know kenapa gue jadi
kayak ‘kesetrum’ gitu. Kagum, iri, sekaligus terpacu melihat mereka yang
berhasil meraih prestasi yang membanggakan.
Nggak
cuma dari situ, gue juga iseng-iseng browsing. Beberapa orang yang bikin gue
nganga misalnya Ni Putu Tamara Bidari, salah satu peraih nilai UN SMP tertinggi
se-Indonesia tahun 2012. Terus Ni Kadek Vani, tahun 2013-nya. Dua-duanya berasal
dari daerah yang sama, yaitu Denpasar, Bali. And they made me think, ini kenapa orang Bali jenius-jenius ya? Apa
orang sini yang bego? Haduh, bayangin aja, keempat pelajaran yang
di-UN-kan nilainya sempurna. NEM-nya 40. 40 gitu loh. It’s kinda… perfect.
Nggak kebayang senengnya gimana manggul julukan “Si Anak Pintar dengan NEM SMP
Tertinggi se-Indonesia”.
Dan
itu membuat saya tercenung sembari berpikir lagi…
Apakah saya bisa?
Gue
menganut konsep “Nggak ada yang nggak bisa selama kita mau berusaha”. Kita dan
mereka sama-sama makan nasi kok, kenapa kita nggak bisa? Oke, it sounds cliche,
tapi kata-kata itu powerful dan bikin gue kesetrum. Bunda gue acapkali ngomong
di rumah, “Barang kelihatan tuh nggak ada yang nggak bisa, kak. Semua bisa kalo
ada usaha.” Well, yes. There’s no
elevator to success, we have to take the stairs. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum
itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (QS 13:11) Jujur
saja, sampai saat ini gue merasa gue masih belum cukup maksimal dalam usaha untuk
mencapai apa yang gue inginkan. Gue belum bener-bener lepas dari kemalasan yang
terus mendera. KEMALASAN.
PROBLEM UTAMA PELAJAR INDONESIA. Masih kurang rajin, belajar aja
masih depends on mood padahal udah mau UN (catat: malas adalah musuh terbesar
kita). Kadang-kadang kalo kesadaran lagi on, rajinnya langsung memuncak. Tapi kembali
lagi ke diri kita, kita nggak bisa nunggu kesadaran datang baru belajar yang
rajin, iya kan? (ngomong ke diri sendiri) Rasa malas itu kayak syaiton, nggak
pernah lengah kalau ada celah. Semua pilihan ada di kita, apa kita masih mau ngasih celah buat mereka masuk dan ngendaliin kita
terus menerus?
Beberapa
minggu yang lalu, gue dan beberapa teman ngasih motivasi ke anak-anak kelas 6B SD
Tugu Ibu, yang diajar sama guru waktu gue kelas 6 dulu. Beliau nyuruh kita
ngasih motivasi ke mereka supaya bisa masuk ke SMP yang mereka cita-citakan
(banyak yang minat SMP 3 lho yeay). Apa yang gue katakan ke mereka sebenarnya
adalah kata-kata yang sering gue ucapkan ke diri gue sendiri. Salah satu ucapan
yang gue inget: “Ketika kalian lagi malas belajar, selalu inget tujuan kalian
buat belajar itu apa. Kalian harus selalu mikir, ‘wah, kalau aku bisa juara 1,
betapa bangganya orang tua aku’, ‘wah, kalau aku bisa dapet nilai bagus, pasti
orang-orang akan senang’. Insya Allah kalian akan semakin terpacu.” Yeah, when you feel like giving up, always
remember why you started. Selalu inget apa tujuan lo ketika lo berbuat sesuatu. Selalu selalu teriakkan ini ke diri sendiri, “If I
try more harder, I can reach it.” Gue majang beberapa kalimat motivasi di
meja belajar supaya kalau gue lagi malas, gue bisa kembali semangat begitu baca
kalimat-kalimat itu.
Dan
selalu berhasil. They knock me on my ass,
like… “GET UP, TIK! GET UP!”
Jadi
apa kuncinya supaya nggak malas?
DISIPLIN.
DISIPLIN.
DISIPLIN WOOOYY!!!!!!!! (teriakin
ke diri sendiri)
Berlatih
untuk jadi orang yang disiplin. Disiplin waktu, disiplin belajar, disiplin
ibadah, disiplin dalam bersikap. Pokoknya kalo udah disiplin, insya Allah semua
bisa di-handle dan dicapai. Salah satunya; menjauhi
kemalasan.
So,
mereka yang berhasil dapetin NEM UN sempurna pasti udah berusaha sebaik mungkin
sehingga mereka bisa mengecap manisnya buah dari usaha yang telah dilakukan.
Sama halnya kayak pemenang olimpiade/lomba bidang tertentu. Coba tengok para peraih
medali emas OSN… [AAA, PENGEN BANGET (T___T)]. Lihat senyum yang menghiasi
wajah mereka pas ngegendong piala + dikalungin medali dan kebahagiaan sebesar
apa yang mereka rasakan. Lalu yang berhasil bawa nama baik Indonesia ke luar
negeri… dan pulang dengan membawa medali emas perak perunggu! Salah satunya
yang gue inget itu Sonny Lazuardi, peraih medali emas 17th
International Conference of Young Scientist 2010. HA KURANG JENIUS APA.
Apa
gue… bisa? Ya ampun, dari dulu gue pengen banget bisa mengharumkan nama
Indonesia di mata dunia, dan gue yakin I’M NOT THE ONLY ONE, IYA KAN. Jangan
takut bermimpi, jangan minder karena merasa mimpi-mimpi itu too high dan
kelihatan unreachable, AND THE MOST IMPORTANT THIIINGGG... JANGAN PESIMIS DAN SELALU BERUSAHA. Nggak ada yang nggak bisa selama
kita mau berusaha. Ingat itu. INGAAAT.
Jadi…
APAKAH
SAYA BISA?
APAKAH
KITA BISA?
THERE’S
NO SUCH WORD AS CAN’T.
NB: Doakan ya, sebentar lagi gue dan teman-teman mau menghadapi UN 2014. Doakan semoga kami bisa mengerjakan soal dengan baik dan tanpa halangan. Semoga seluruh siswa/i SMP kelas 9 se-Indonesia lulus dengan NEM memuaskan dan masuk ke sekolah yang diinginkan ya, AMIIIIIIN :)
No comments:
Post a Comment