Saturday, 10 October 2015

Writing confusion be like...

If it was months—or God knows exactly how long ago, I'd say that I could type nearly all the things I need to get out inside my mind with certainty; where they were just being transformed into words undoubtedly. They seemed so penetrable that I let myself drown in it. Those are the moments of ultimate passion I always utterly enjoy. It's like you're just willingly being honest to clarify all mixed feelings in order to immortalize them.

Not too long afterwards, I was glad to know I still did it persistently. I was having this particularly big urge to write down anything, all those floating ideas because they sometimes just popped out in all of a sudden. I bleed; I let them breath. It kept on its track, even if the frequency was getting less somehow.

Then life happened.

I don't know why, it all started with me finding it so hard to arrange sentences the way I used to do. I got to have quite a long time of silence to figure out what I was about to write—how should I write it. My thoughts needed to get out but I just felt like getting some kind of walls built up in front of them, handicapped but actually not. I tried to, but it just didn't work well.

And by the time I sit in front of my laptop, staring at the blinking cursor and the blank pages, I realized I felt lost.

I realized I've lost my mojo.

I didn't mean to stop bleeding but this circumstance was just kind of inevitable.

I lost my writing time a lot because of life, when in fact I just never get enough time. Maybe it was just me getting sick or experiencing writer's block and stuff, which is customary. But this kept on happening for so long it has gotten to the point where I felt so guilty for only keeping them ideas inside and abandoning my writing project. It seemed more like I chose to deal with life problems and let it consume me without even considering to take some quality time for my own passion. That's why I'm certainly sure life was throwing me out of my writing groove. Some recent problems occured were the main ones that sidetracking it. I got so perplexed in the complexity of life I forgot writing may become the best escape.

I know I suck for blaming it all on life.

Well after all the complains I try to get my writing mojo back and I hope I can do one of the things I love the most in life without any obstacles anymore.

{{{ I'm sorry I've been babbling a lot here instead of posting some kind of worth-reading or interesting or brain-feeding or at least fun to read articles because sometimes it's just what blogs are for ✌ }}}

Saturday, 18 July 2015

The Leaked Feelings

That moment when you have to take a deep breath before speaking because you know you're really close to crying.

But you failed.

Because you have been hiding it for so long and got tired in all of a sudden.

You always convince yourself that everything is okay.

You keep your feelings buried.

You never tell anyone how you really feel, even your closest ones.

It's not that you don't want to.

You're afraid they won't listen, because sometimes you don't believe that they truly care.

No one cares.

So you keep it all inside you.

But controlling emotions isn't easy.

It's tiring.

So there's just one time when your defense isn't working anymore.

Your storage of feelings is overload.

You realize you aren't as strong as you think you were.

Then all the things you've buried got leaked.

They turn into tears that started falling down your face.

You can't hold them.

It's just too much that taking a deep breath doesn't even work.

Your soul feels like dying.

You lost control.

So you keep crying.

Let never-ending rain out.

Because it's the only realization of leaked feelings.

It's the only way to relieve yourself.

It's the only escape from getting hurt inside all over again.

It feels so painful yet it somehow makes you better.

You don't care that you failed.

You don't care about what happens around you.

You're crying till what's left is emptiness.

Till you know one lil fact that you've been pretending for so long, you ignored yourself that you forgot you do matter.

(PS: Purely made by heart, abaikan kesalahan kata)

Friday, 26 June 2015

A few twist-ending movies [spoiler]

As the weekend wore on, I got literally nothing to do at home. Nganggur, gabut, kangen tugas (bullshit ik), you name it. There are times when I really want to be productive, do something positive and time-worthy but I just don't do so much efforts that are able to diminish my laziness--because I'm just that good at procrastinating. I often end up watching movies a lot. And eating a lot, too.

Akhir-akhir ini gue lagi suka nonton film yang punya twist ending, you know, those shocking, brain-teasing, and mind-blowing ones. Some of them are Predestination, The Boy in the Striped Pyjamas, Gone Girl, and MementoKalo belum nonton mending gausah baca postingan gue yang ini dulu soalnya gue mau spoiler. So before you read this, I totally recommend you to watch those movies aforementioned. CUKUP BACA SINOPSISNYA AJA, OKE?



PREDESTINATION



Predestination merupakan rekomendasi dari salah seorang temen gue. Dia menggebu-gebu banget pas lagi ceritain sinopsisnya, she told me that this movie would never be disappointing. Langsung deh gue download nih film.

Dengan latar belakang tahun 1992, John (Ethan Hawke) adalah seorang agen pemerintah yang bertugas untuk mencegah terjadinya kejahatan termasuk pembunuhan yang akan berdampak di masa depan dengan cara melintasi waktu. Misinya adalah memburu seorang pengebom yang dikenal dengan nama Fizzle Bomber. Ia pun kembali ke tahun 1970 dan menyamar menjadi bartender untuk mencari informasi seputar Fizzle Bomber. Di bar itu juga ia bertemu dengan seorang pria yang mirip wanita.

SPOILER ALERT!

Gue suka banget sama film yang berbau time-travel, apalagi yang menghidangkan banyak twist tak terduga yang bikin gue cengo macam Predestination ini. Sang sutradara ngasih alur yang sulit ditebak dan plot yang rumit sehingga kadang pertanyaan-pertanyaan inevitably muncul di benak para penonton. Jadi kunci utama nonton Predestination adalah minum Aqua dulu, biar fokus. Gue nonton beginningnya sambil makan jadi sepanjang film gue harus bener-bener fokus untuk bisa memahami ke mana sih sebenernya gue di bawa sama film ini? 10 menit pertama gue belum melek seutuhnya, tapi seiring dengan berjalannya film, beberapa scene berhasil bikin gue shocked, sampe endingnya yang sama sekali unpredictable. Ternyata... selama 97 menit gue hanya menonton satu orang yang sama! I was jaw-dropped like what the fuck? Jadi intinya film ini cuma bercerita tentang satu orang di timeline yang berbeda-beda. Pas gue selidikin ternyata clue-nya emang ada di quotes yang dilihat John waktu dia sadar,


"Never do yesterday what should be done tomorrow."
"If at last you do succeed, never try again."

dan perkataan John sendiri,


"The snake that eats its own tail, forever and ever."

YASH, this movie really got my mind all fucked up. KEREN BANGET!


THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS




The Boy in the Striped Pyjamas adalah another Nazi-themed movie yang membekas di hati gue selain Life is Beautiful. Dua-duanya heart-breaking, cocok buat lo yang pengen nonton film sedih tapi nggak menye-menye.

Film ini menceritakan tentang Bruno (Asa Butterfield), seorang anak Jerman berusia delapan tahun. Ia merupakan anak dari Ralf (David Thewlis) dan istrinya Elsa (Vera Farmiga). Ralf sendiri merupakan seorang tentara Jerman yang kemudian dipromosikan menjadi komandan sebuah kamp konsentrasi Nazi, Auschwitz. Keluarga kecil itu pun pindah, dari Berlin ke Auschwitz. Rumah baru mereka pun berada tak jauh dari kamp konsentrasi tersebut. Tinggal di area kamp konsentrasi, Bruno tidak diperbolehkan untuk menjelajahi bagian belakang rumah atau sekitarnya. Ibunya pun melarang dia untuk melakukannya. Namun, kombinasi dari rasa bosan dan ingin tahu, membuat ia memutuskan untuk pergi mengeksplorasi. Dia melihat anak laki-laki di sisi lain pagar. Ia merasa gembira, karena ternyata ada anak laki-laki seusianya. Shmuel namanya, ia seorang anak keturunan Yahudi Polandia, yang dibawa paksa ke kamp konsentrasi beserta keluarganya. Sejak saat itu, mereka pun menjadi sahabat. (http://deatriandani.blogspot.com/2013/01/sinopsis-boy-in-striped-pajamas.html)

SPOILER ALERT!

Adegan di mana Bruno sama Shmuel main bareng walaupun mereka dibatasi, conversation yang bener-bener jujur, plain apa adanya antara dua bocah innocent ini bener-bener powerful enough buat bikin mata gue berkaca-kaca. Tiap liat Shmuel rasanya kasian banget, bocah sekecil itu udah harus ngejalanin hidup di dalam kamp konsentrasi yang sedemikian berat.

Feeling gue udah gaenak pas Bruno akhirnya ngegali tanah perbatasan, masuk ke 'area dalam pagar', ngeganti bajunya sama piyama punya Shmuel, trus ngejalanin misi mereka buat nyari bapaknya si Shmuel ini. Tiba-tiba mereka didesak buat baris trus diarahin ke sebuah ruangan, combustion place for them Jews, to be precise. When the Nazis commanded them to take off their clothes, I could feel my heart tore apart seeing Bruno and Shmuel keep on holding hands among the crowd, convinced each other that it's just going to be a shower. Kemudian pintu pun ditutup...

Gue udah punya prediksi mereka bakal kenapa tapi gue tetep menyangkal like please jangan dong jangan why this has to be ended in such a cruel way. :"( Berbarengan dengan digiringnya mereka ke ruang pembakaran, orang tua dan kakaknya Bruno lari ke kamp itu secepet yang mereka bisa, but it was too late. Pas ruangan menggelap trus pintunya disorot, I just couldn't help myself wondering what--how it happened behind that door; what happened with Bruno and Shmuel.



GONE GIRL


Banyak banget yang ngerekomendasiin film ini. By a lot, I mean A LOT. Good reviews, rating IMDB bagus, one of David Fincher's masterpieces... I think there was no reason not to be curious and put it into my list.

Gone Girl bercerita tentang pasangan suami-istri, yaitu Nick Dunne (Ben Affleck) dan Amy Dunne (Rosamund Pike). Konflik langsung terjadi di awal film saat Nick pulang ke rumah dan mendapati istrinya hilang. Nick kemudian melaporkan ke polisi hingga investigasi dilakukan. Anehnya dari hasil investigasi polisi yang dipimpin Detektif Rhonda (Kim Dickens) justru menyudutkan Nick yang kemudian malah diduga telah membunuh istrinya. Masalah makin bertambah seiring reputasi istrinya yang menginspirasi karakter Amazing Amy, tokoh dalam seri buku anak-anak, yang membuatnya dikenal oleh publik. Tak heran jika masalah ini pun makin meluas berkat campur tangan media massa hingga menjadi konsumsi nasional. (http://namafilm.blogspot.com)

SPOILER ALERT!

Dan emang, film ini parah! Gila. Aura thriller-nya berasa banget meskipun nggak ditampilin secara eksplisit, terbukti di beberapa scene yang bikin gue tegang. Secara garis besar, film ini emang nyeritain tentang marriage. Plot-nya cukup complicated, soalnya diselipin tiap scene flashback yang mendetail; hubungan mereka berdua dari awal dan Amy yang lagi narasiin diary-nya. Di awal gue bener-bener mikir si Amy tuh ke mana. Dibunuhkah? Diculik? Apa yang gue saksikan dari awal, sampe ke bagian di mana Nick selingkuh dan memperlakukan Amy kayak gitu sebelum dia hilang bikin gue memihak Amy dan benci banget sama Nick. Kemudian plot twist yang ada bikin impression gue terhadap setiap tokoh berubah-ubah. Gue berhasil ditipu sama persona yang dibuat Amy. She was a psycho, what she has been doing was totally insane. Gue speechless liat apa yang dia lakuin ke Desi (kasian banget itu cowok ya ampun udah dimanfaatin abis-abisan, dibunuh dengan cara yang nggak wajar, difitnah pula :(). Ternyata dia kabur jauh-jauh untuk membuat kesan kalo dia dibunuh sama Nick (tapi nggak sepenuhnya salah dia juga sik, karena dia nggak mungkin mau bales dendam kalo Nick nggak selingkuh). Setelah dia merangkai skenario, came out, menjelaskan situasi yang direkayasa sendiri dengan evidence yang sempurna, dan berhasil bikin publik iba, Amy akhirnya terbukti tidak bersalah. The fact that she has successfully done it till the end really disturbed me. And it's so frustrating to think that akhirnya mereka serumah lagi, walaupun Nick udah tau kalo istrinya saiko (because after all this time, he surprisingly hasn't knew his own wife yet). Kebayang nggak lo kehidupan rumah tangga mereka ke depannya bakal gimana?

Pokoknya banyak banget twist nggak terduga yang bakal bikin kepala lo muter-muter. It was amazing yet... depressing!


MEMENTO


Who doesn't love Nolan's work? Selain Inception, film bergenre neo-noir psychological thriller ini bakal bikin lo takjub.

Leonard Shelby yang diperankan oleh Guy Pearce memiliki cerita yang kompleks mengenai kehidupannya pasca-ingatan jangka pendeknya yang hilang ketika berkelahi dengan penyerang istrinya saat tengah malam. Hal terakhir yang tersimpan dalam memori jangka panjangnya adalah istrinya yang sedang sekarat di hadapannya. Semenjak itu, Leonard mengabdikan hidupnya untuk berusaha mencari penyerang istrinya. Ingatan jangka pendeknya yang rusak membuat Leonard menggunakan foto, catatan, dan tato di tubuhnya untuk mengingat petunjuk-petunjuk yang sudah dia dapatkan untuk mengungkap teka-teki pembunuh istrinya. Secara bergantian film ini memiliki latar hitam putih dan latar berwarna. Latar hitam putih menceritakan urutan kronologis pencarian Leonard dengan alur maju, sedangkan latar berwarna menandakan pencarian Leonard dengan alur mundur. Latar hitam putih dan berwarna ini akan saling bergantian muncul hingga bertemu di pertengahan kronologis dimana hal itu ada di akhir film.

SPOILER ALERT!

Pertama, gue pengen bilang kalo gue suka banget sama alurnya yang backwards. Biasanya kalo kita nonton film kan nanyanya "What will happen next?", tapi di Memento mah "What happened before?" karena akhirnya ada di awal, dan awalnya ada di akhir. Brilliant, isn't it? 

Gue bener-bener penasaran sama endingnya dan siapa sebenernya John G. yang selama ini dia cari. Dan ternyata... John G. yang merupakan pemerkosa dan pembunuh istrinya udah dia bunuh beberapa tahun yang lalu. Karena Leonard menderita short-term memory loss (unable to create new memories after the event, which is why this story happened), dia nggak inget kalo dia udah membunuhnya dan terus mencari John G. dengan tato-tato di tubuhnya sebagai petunjuk. Kondisi Leonard ini pun disalahgunakan oleh Teddy dan Natalie. Teddy mempergunakan Leonard buat ngebunuh James Grants (yang dia kira John G. then he realized that he killed the wrong person). Natalie, yang merupakan pacar James, membantu Leonard mengumpulkan fakta-fakta yang membuat Teddy menjadi the real John G., dan dendam Natalie pun terbalaskan begitu Leonard berhasil membunuh Teddy (opening film). That Sammy Jankins guy, penderita anterograde yang selama ini dia jadikan 'patokan' tidaklah nyata. Sammy Jankins adalah dirinya sendiri.

So, Leonard cuma dimanfaatin buat ngebunuh orang-orang tertentu yang nggak ada untungnya buat dia, karena John G. yang selama ini dia cari udah mati. Sumpah kalo jadi Leonard, gue udah nggak tau mau ngapain. Bayangin aja, lo nggak inget apapun yang baru lo lakukan beberapa menit lalu. Belum lagi lo nggak bisa percaya orang begitu aja, because who knows what will people do to take advantage of your condition?

Intinya film ini berhasil dikemas dengan apik dan cerdas bangetlah!

Sunday, 24 May 2015

PENGALAMAN SELEKSI 1 & 2 AFS/YES 2016-2017

Hola, guise. I'm coming back with a lot to tell.

(btw gue kangen banget ngeblog I just can't choose what to post tapi akhirnya gue memilih topik ini) (» prolog klise tiap ngeblog)

Jadi gue baru aja ikut tes seleksi program pertukaran pelajar AFS/YES. Awalnya sih, gue sempet bimbang mau ikut apa nggak, dan ortu juga agak ragu, tapi akhirnya keputusan gue buat ikut seleksi semakin membulat. Abis mikir-mikir, bunda gue eventually mendukung banget jadi yaudahlah kan you just can't deny your mother sayings.

Langsung aja deh. Seleksi pertama itu tanggal 3 Mei di gedung Diploma IPB. Gue beli pin itu mepet-mepet batas akhir waktu pendaftaran, tapi untunglah kebeli dan masih ada waktu buat ngisi. Skrip pendaftarannya banyak banget, cyin, ± 10 lembar (fyi gue ngisinya niat nggak niat HAHA).

Sehari sebelum seleksi 1 tuh gue nginep di Hotel Pangrango, biar nggak repot besok paginya dan ngehindarin macet. No significant preparation, all I had done was searching dan baca blog orang tentang pengalaman mereka ikut seleksi, pertanyaan macam apa yang bakal dihadapi, dan baca-baca dikit soal berita yang lagi booming di Indonesia + dunia. Dan berangkatlah gue keesokan paginya ke gedung Diploma IPB yang cuma 'selemparan kancut' dari hotel. Btw anak Smansa yang ikut sekitar 20an. Pas daftar ulang kayak ribet gitu sih, agak nggak teratur sehingga membuat hampir 500 orang desek-desekan, jadi waktu mulainya ketunda... tapi ya gapapa. Sebelum briefing, gue agak tertohok melihat banyaknya orang yang megang—ehem—RPUL dan sebundel kertas printan, karena gue cuma bawa diri, tas yang isinya berkas-berkas pendaftaran dan bekel.

Tesnya ada 3: menulis esai, tes pengetahuan umum, sama tes bahasa Inggris. Yang pertama menulis esai. Dikasih 3 topik gitu, gue lupa apa aja, pokoknya gue milih yang 3 kesalahan terbesar dalam hidup gue dan bagaimana gue menyelesaikannya. Ngerjainnya di kertas folio, min 500 kata dalam waktu 2 jam. Mumet? Pasti. Untung gue duduknya deket jendela, a magical place where you can easily find inspiration.

Setelah esai, istirahat dulu, trus langsung masuk ruangan lagi buat tes pengetahuan umum. Katanya sih, soal-soal IPU tuh unpredictable, mau lo ngelahap RPUL juga, pasti ada aja soal yang bikin lo garuk-garuk kepala. Nah, kalo yang ngelahap RPUL aja masih ada kemungkinan garuk-garuk kepala, gimana gue? Yang gue tau lumayan banyak yang keluar sih, tapi tetep aja ujung-ujungnya gue harus mengandalkan insting dan jurus itung kancing. Ada soal mata uang, ibu kota, presiden, organisasi, hari-hari penting, dll... ya RPUL bangetlah. Sama ada soal-soal SMP, yang membuat gue harus melemparkan diri ke masa lalu dan mencoba mengingat-ingat. Yha, cukup memeras otak. Setelah 2 jam berlalu, ada istirahat lagi buat sholat dan makan-makan lutju. Udah deh, abis itu tes terakhir, bahasa Inggris. Alhamdulillah mirip-mirip UN kelas 9 dan tidak se-njelimet tes pengetahuan umum.

Pengumuman hasilnya tanggal 17 Mei, tapi kemudian ada pemberitahuan didelay jadi tanggal 19 Mei. Selama itu gue nggak nungguin, bahkan gue lupa—ingetnya setelah banyak yang nge-reminder H-1... ok. Eh, ternyata tanggal 18 udah keluar. Jadilah gue buka malem itu, dan... tet teret teret... the first word I've seen was

"Selamat :)"

Phew, nggak nyangka bisa lolos padahal di IPU gue tebak-tebak cantik.

Fyi, tes seleksi 2-nya tanggal 24—ya, besoknya UKK. Agak mepet juga sama waktu pengumuman dan berkas-berkas persyaratannya banyak: fotocopy ijazah, SKHUN, rapot, dll yang harus dilegalisir. Gue kebagian shift siang, jam 12, tempatnya sama kayak seleksi 1 kemaren. Langsung aja ke hari H-nya. Gue berangkat dari rumah jam 9 dengan asumsi bakal macet dan ternyata gue nyampe jam 10. Yang kerajinan kayaknya emak gue soalnya beliau yang ngebet berangkat jam segitu. Tapi yaudah. Anak Smansa yang lain datengnya agak lama setelah gue, dan pas semuanya udah lengkap (ada 8 orang), tetep aja masih sepi sampe kita berpikir ini kayaknya anak Smansa semua yang dapet shift siang. Mulainya ngaret juga nih, jam 1 baru disuruh ke ruang tunggu.

Pas kita nyampe sana, ternyata udah pada bikin lingkaran gitu, semacam forum terbuka. Ternyata itu inisiatif sekelompok anak dari suatu SMA. Trus satu persatu dari kita ngenalin diri. Anak-anaknya pada heboh jadi rame deh. Sehabis doa bersama, kita main game dulu sebentar, ngisi waktu sampe dipanggil. Nama gamenya "Beat", game anak pramuka dan gue nggak bisa-bisa lol. Udah deh abis itu kakak-kakaknya masuk. Dan nomor gue disebutin di awal-awal, oh shy. Langsunglah gue dianter ke ruangan buat tes kepribadian. Gue bareng sama anak pesantren An-Nahdlah, namanya Sarrah. Anaknya rame, serulah. Pas disuruh duduk di depan ruangan, entah kenapa baru kerasa deg-degannya. Kita berdua sama-sama panik, karena katanya wawancara kepribadian ini yang nyeremin. Nggak lama kemudian kita dipanggil buat masuk.

Gue kebagian diwawancara sama dua orang, yang satu kakak returnee (kayaknya), yang satu lagi guru—nggak tau guru atau bukan tapi perawakannya menunjukkan demikian. Gue duduk sambil menyambut uluran tangan mereka dengan agak gemeter. Awal-awal sih ditanya seputar gue, dimulai dari nama, hobi, bakat, kenapa gue ikut program ini, negara yang gue pengenin, persiapan yang udah gue lakuin apa aja, sampe ke pertanyaan-pertanyaan yang berat. Nah, biasanya pas ditanya tentang bakat itu lo harus nunjukin bakat itu apa (bahkan ada yang disuruh karate atau nari atau nyanyi saat itu juga) tapi berhubung I feel like I have talents that can't be directly showed, yaudah gue nggak disuruh ngapa-ngapain (padahal sempet jiper pas baca blog orang yang bilang ada pertunjukan bakat). Cuma agak tertohok aja pas interviewernya bilang "Jadi kalo kamu disuruh nunjukin bakat yang berbau performance, kamu ngapain?". Gue jawab ya kalo keadaan mendesak yaudah gue maksa nyanyi atau nari lol. Di akhir-akhir pertanyaannya makin berat dan makin dicecer gitu, lebih ke gimana gue survive nantinya, apa yang bakal gue lakuin sebagai duta Indonesia, tentang hijab, tentang toleransi, beh gue sempet ran out of words dan diem agak lama karena bingung mau jawab apa. Gue menghembuskan napas lega pas mereka bilang udah, dan gue pun langsung menuju ke ruangan wawancara bahasa Inggris. Katanya sih yang ini lebih santai, jadi gue nggak terlalu grogi walau English gue belepotan. Gue diwawancara sama dua orang berkerudung, dan dua-duanya kedengeran fluent. Btw yang satunya sinis banget nggak boong gaya ngomongnya sangat intimidating bikin gue jiper...

Hal pertama yang ditanya ya nama, trus hobi, trus bakat (lagi). Sama kayak wawancara kepribadian, pas ditanya negara apa yang gue pengen, gue jawab gue sebenernya pilih program YES tapi di lubuk hati pengennya Jepang (remember, all you have to do here is just be honest. Kalo mengada-ngada malah dicecer dan nanti lo nggak tau mau jawab apa). Trus ujung-ujungnya...

"Since when have you learned Japanese?"
"Formally? Since I entered high school, I think."
"Can you speak Japanese?"
"Yeah, a bit."
"Can you show us?"
"...I can."
"....."
"....."
"....."
"So I start now or..."
"Yes please."
"...okay... Hajimemashite, watashi no namae wa Atikah-san desu. Juu-nensei desu. Douzo yoroshiku."
Fyi itu beneran ada jeda HAHAHA trus gue ditanya kenapa mau ke Jepang, yaudah gue cerita. Hampir mirip-miriplah sama wawancara kepribadian, tapi gue merasa yang ini lebih singkat durasinya. Akhirnya gue keluar ruangan sambil menghembuskan napas lega. Ternyata perasaan gue bener, entah gue yang diwawancara terlalu sebentar atau apa, gue adalah orang pertama yang keluar. Masih sepi banget. Yaudah, sambil nunggu dijemput gue nungguin yang lain keluar juga, dan ternyata ada yang belom dapet giliran wawancara dua-duanya. Pas lagi nunggu, si Sarrah dateng jadi gue nggak sendiri, yeay. Makin lama makin banyak yang ngumpul, dari SMA yang beda-beda juga, ada Vidya, Bahy, Adi, Ulfa, dan lain-lain. Kita cerita-cerita soal tes wawancara tadi, trus tukeran sosmed sama nomor HP. Seru banget dapet temen baru. Gue berharap bisa ketemu mereka lagi di seleksi selanjutnya kalo ditakdirkan, atau di lain kesempatan, yeay. Akhir cerita, gue pulang deh karena udah dijemput.

Wah, ternyata cerocosan gue lumayan panjang. Yaudah segitu aja sih. Doain yang terbaik buat gue dan temen-temen ya! Pengumumannya minggu depan, semua ada di tangan Allah, yoi. Oke, dadah!

Doain juga besok gue mau UKK.

C U

Tuesday, 24 February 2015

A Letter to Myself 10 Years Ago


Hello.

You might not be able to read this, nor understand what I’ve been written here. You’d be frowned, staring at this for a while, then you were doing the exact thing that most of the children would do when they got a paper; you crumpled it

--which I’m grateful of, that you didn’t torn it into pieces. A bit of appreciation. I know that doesn’t make any sense—knowing that you’re just a child, but let me be happy to keep that assumption on mind.

Because this isn’t just a paper.

This is a letter from yourself. To make it clear: your future-self.

I arrange these words, in order to tell you how does it feel like to be growing up; what you’re going to face in 10 years. It doesn’t matter if you haven’t been able to read yet, I just want to tell you everything.

Surat ini ditulis olehku; olehmu 10 tahun mendatang. Aku, dirimu yang telah tumbuh. Aku, dirimu yang telah melewati beberapa masa perubahan. Aku, dirimu yang telah mengecap sebagian dari pahit dan manisnya kehidupan.

Growing up sucks, if I can say.

Kamu akan selalu mengambil satu langkah ke depan. Kamu akan semakin jauh dari tempat di mana kamu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya. Dan seiring dengan langkahmu, akan banyak hal mengejutkan yang datang. Angin kencang yang menerpa dari segala sisi di saat kamu terlalu ringkih untuk tidak tergoyahkan, serta badai yang menerjang di saat kamu tidak punya persiapan.

Seiring dengan langkahmu, kamu akan tiba di titik jenuh kehidupan. Kamu akan tiba di titik di mana kamu tidak memiliki pilihan selain berusaha keras untuk bertahan; karena jika tidak, kamu akan terjatuh. Kamu akan memasuki masa kelam, di mana cahayamu mulai meredup, dan perlahan-lahan memudar.

But don’t worry. Kamu memiliki banyak orang di sekelilingmu. You won’t be able to see them for quite a long time, but I want you to know that they are there. Mereka menyayangimu sebagaimana kamu menyayangi mereka. Mereka memberikan segenap kekuatan yang menopangmu agar tidak terjatuh, dorongan untuk kamu agar terus berjalan. Mereka memberikan cahaya yang sempat pudar, sehingga kamu dapat kembali melihat terangnya kehidupan yang kamu punya. So when you have to face it, convince yourself that you’re strong, don’t ever tell yourself otherwise. Believe me, you’re strong enough to get through that time.

Kemudian langkahmu akan terhenti sejenak di tempat-tempat di mana kebahagiaanlah satu-satunya hal yang kamu pikirkan saat itu. You’ll be amazed due to how happy you are. Kamu akan tiba di tempat-tempat di mana kamu tidak bisa menahan tangis; karena kamu tidak tahu lagi cara lain untuk mengungkapkan betapa bahagianya kamu. Kamu akan tiba di tempat-tempat yang tidak bisa kamu lupakan seumur hidupmu, karena di sana, saat-saat yang kamu miliki begitu berharga.

Kamu punya banyak mimpi; kamu selalu punya. Kamu ingin menjadi seorang dokter dan penulis. Kamu akan jenuh, kamu akan malas, kamu akan terus mempertimbangkan cita-citamu, tujuanmu, apa yang sebenarnya ingin kamu kejar. Kuberitahu padamu bahwa setelah beberapa tahun yang nantinya akan kamu lewati, hal itu tidak pernah berubah. Kamu selalu ingin menjadi dokter dan penulis. And you don’t know how to give up.

Hal yang membuat hatimu terluka adalah saat kamu kehilangan krayonmu, kan? Atau saat seseorang berani berurusan dengan mainanmu. Atau saat kamu tidak diizinkan membeli ciki dan permen. Atau saat kamu sakit gigi.

Namun tawamu selalu berkhasiat. Tawamu membuat kesedihanmu hilang dalam sekejap. Tawamu selalu mampu meredam sakit itu, sehingga kamu jarang sakit hati. Kamu tidak mengenal cinta, atau apapun yang mampu mengusik hatimu, karena kamu senang. Kamu selalu senang. It’s always easy to find your happiness, even in small things, isn’t it? That innocence you have, leaves you free to enjoy every second of your life. Kamu begitu menikmati masa-masa kecilmu, masa-masa di mana kamu bisa tertawa lepas tanpa beban di punggungmu. Kamu tidak memiliki masalah, kamu menjalani kehidupan sebagaimana kamu harus menjalankannya. You don’t care about everything, because you’re just that happy.

In the end I just want to thank you for making my childhood. Stay happy, even when it’s getting hard to find happiness.

Aku,

dirimu yang merindukanmu

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...