2018 is winding down and I can't believe I decided to write again.
Wow.
Anyway semua yang diawali dengan hashtag seperti judul di atas merupakan raw random thoughts, jadi sebelumnya saya mau minta maaf kalo tulisan ini se-random itu dan mau berterima kasih juga kalo kalian masih mau baca (padahal isi blog gue juga udah terlanjur random dari awal).
I've read this statement once that if you think about particular something at one moment and have this urge to let it all out, you have to, at that exact time. Karena ketika kita merasa ada sesuatu yang necessary untuk dikeluarkan tapi malah ditunda-tunda, the thought and the mood to write it down can disappear into thin air dan hanya menjadi sebuah ide yang numpang lewat. The feelings probably won't be the same as the exact moment you think about it. Atau on the other hand, kalo gak dikeluarin, the thoughts and the urge would still be there dan menunggu sampai dikeluarkan (sama halnya kalo lagi pengen banget ngomong sesuatu ke orang, am I right or am I right?). That is exactly what I'm feeling right now; something has been bugging me and I need to get this out of my head.
That was FYI, totally unnecessary but you got my point. I needed to let that one out too.
Okay so, being a ruminative thinker that I am...
Semakin gue tumbuh dan hopefully berkembang, gue makin melihat banyak sisi kehidupan. Kayak... wah, ternyata dunia itu multidimensional ya. Orang juga. Semua masalah pun. There is always something more than meets the eye, beyond our grasp.
Faktanya dunia gak cuma hitam putih, tapi abu-abu.
Apalagi setelah gue merantau dan memasuki dunia kuliah, masa-masa pre-quarter life crisis (I'd like to save this topic for next talk), gue seakan-akan makin diberi kesempatan untuk melihat hidup dari berbagai sisi. I encounter many possibilities of any occurrence, bahkan gue sadar soal ini dari deep talk sama temen-temen, simply about life and stuff, about everything in between. Menyaksikan hal-hal yang bikin gue mikir, woy, the world is not as small as you think it is. I'm getting a bit lost at explaining things, but I hope this makes sense to you.
Sewaktu kecil—kecilnya segimana ya? Ya waktu gue masih naif banget, belum ditampar-tampar amat sama hidup—I've never been this far out of my comfort zone, maybe at times but at the end of the day, I still managed to see the world based on how I pictured it from where I had been standing.
Ini tuh bener, yang itu salah.
Kalo gak kayak gini, ya gak bener.
Tapi sekarang, kayaknya cara gue melihat permasalahan sedikit berbeda. Gue gak membenarkan, tapi gue coba mengerti, moreover when it comes to any sensitive topic, misalnya ada orang-orang yang melakukan sesuatu dan clash dengan apa yang gue anggap benar, atau mungkin bertentangan dengan tradisi, adat, atau agama—yah, ini contoh beratnya sih. Gue gak mendukung mereka yang berbeda paham, tapi gue juga gak against them to the point I want to do anything close to limiting their rights. I just want to let them make their own decision and enjoy their own things. It's truly none of my business. Anything regarding someone's life that is not involving ours dan selama itu menyenangkan mereka dan tidak merugikan orang lain, is fine.
Jaman sekarang finding happiness susah, being happy itself takes effort, jadi ketika seseorang udah bahagia dan menemukan source of happinessnya, just let them be. Let people do their own things. Let people do their own things.
Masalah lainnya pun, terutama hal-hal yang melibatkan seseorang dengan Tuhannya. Kadang gue suka berpikir, bisa-bisanya kita men-justifikasi ini hitam dan itu putih, ini dosa dan itu tidak, ketika kita aja gak tau pandangan Tuhan terhadap hal-hal tersebut seperti apa. Kembali gue harus terus ingat bahwa itu urusan masing-masing individu. Well, ini bicara soal prinsip juga sih. Sebagai orang yang percaya Tuhan, tentu gue masih berpegangan pada norma-norma dan semua yang diatur di agama. Apa yang emang salah, dan ada alasan kenapa itu salah, ya sebisa mungkin gak gue lakukan. Tapi, menganggap itu salah dan menghakimi orang lain yang melakukannya adalah dua hal yang berbeda. Kita gak bisa memukul rata prinsip sesama, karena tujuan kita pun beda-beda. Seatap rumah pun prinsipnya bisa beda. Semakin dewasa gue berusaha untuk gak menghakimi karena apa, we are not in the position to do so. Apa yang menurut kita benar belum tentu benar versi orang lain, and vice versa.
Ini sebenernya gue tickled juga sih, sama komentar-komentar netizen di setiap ruang media sosial yang kadang suka gak mikir sebelum menghakimi. Berusaha bodo amat, tapi kadang stupidity-nya ekstensif dan ngerugiin banyak orang. Merasa paling benar padahal definisi benar dan salahnya orang-orang tuh beda. Banyak yang bisa tiba-tiba jadi monster hanya karena sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia percaya. Punya opini itu manusiawi, tapi mungkin kita bisa lebih bijak dalam memilah.
I know it's not easy to dismiss any negative thoughts. One cannot think positively all the time, we can always try but it's not easy. Manusia punya mata, bisa lihat celah. What's important is how we choose to act upon it. Punya otak untuk berpikir, mulut untuk komentar, hati untuk merasa; get them to work well. Semua ada takaran dan batasannya, termasuk apa yang kita luapkan terhadap orang lain, karena semua orang punya teritorial tak kasat mata yang seharusnya gak boleh diusik. At least keep it to yourself, it's the least you can do. If you can't be kind, be quiet. If you can't say anything nice, do not say anything at all.
Gue ambil contohnya di kolom komentar public figure (bahkan gak cuma public figure), sering kan, people spit everything seolah-olah yang punya akun gak punya mata dan hati. Kadang gue baca komentar-komentar yang sejahat itu sambil geleng-geleng, ya ampun dia gak mikir dua kali ya, sebelum pencet enter? Kata-kata bisa setajam itu, melukai siapapun yang dihujamnya. Terlebih lagi, everyone always has their own battle we know nothing about. Gue gak heran kalo ada yang sampe bunuh diri karena dibully di media sosial atau alasan apapun yang mungkin terdengar sepele untuk orang-orang yang tidak merasakannya. Tidak ada alasan yang terlalu sepele, everyone is entitled to their feelings and how they take control of them.
We talk about people because we are not in their shoes. We mock them because it somewhat gives us the feeling of much superior human being. Se-egois itu manusia sampe kadang lupa untuk menghargai satu sama lain hanya karena seseorang berbuat salah, to some extent that makes them a so-called disgrace to the public. Atau karena yang mereka lakukan simply doesn't meet the standard of what we deem as right. Atau demi kesenangan semata because we tend to unconsciously make fun of people, moreover the ones who is being embarrassed by the society already, seakan-akan itu memberikan kita justifikasi.
Dan alasan-alasan lainnya.
Alasan yang pada dasarnya gak membenarkan kita untuk main hakim sendiri.
Maybe we have to learn to give more space to forgiveness and more room to acceptance; to let our heart heal and to breathe the evil out of us, because the world would be so much of a better place to live then.
No comments:
Post a Comment